Senin, 28 Januari 2013

INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT




1.      BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Rumus :

BOR =           Jumlah Hari Perawatan Rumah Sakit  X 100%
               (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam satu periode)
 
2.      AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus :
AVLOS =             Jumlah lama dirawat  
                  Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
 
3.      TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus :
TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan)
                      Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
 
4.      BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus :
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
                         Jumlah tempat tidur
 
5.      NDR (Net Death Rate)
NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Rumus :
NDR =       Jumlah pasien mati > 48 jam           X 1000 ‰
              Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
 
 

Minggu, 27 Januari 2013

Istana dan Sepotong Singkong

Khairul Asri
Khairul Asri

Oleh: Khairul Asri*

KETIKA saya mengomentari dua orang yang sedang berdebat masalah pemimpin, saya katakan ”seorang pemimpin harus seperti Rasulullah SAW”. Salah satu dari mereka mengatakan jangan menyamakan pemimpin kita ini dengan Rasulullah SAW, beliau seorang Nabi. Saya terkejut dengan tanggapan yang demikian, dalam hati saya, kita memang tidak bisa dan tak seorangpun yang akan bisa seperti Rasulullah SAW, tapi  tentu kita bisa melakukan seperti yang beliau lakukan, walaupun tidak sesempurna yang Rasulullah lakukan.

Coba kita membuka kembali Sirrah Rasulullah, para sahabat dan pemimpin-pemimpin islam terdahulu. seharusnya kita mengidolakan mereka dan menjadikan mereka contoh dalam keseharian kita, jangan sampai kita melupakan sejarah. Jika kita sekarang telah sedikit lupa dengan sejarah Rasulullah, bagaimana 3 atau 4 tahun kedepan, tentu generasi kita bisa menjadi korban penipuan dalam sejarah. Setiap kita tentu punya idola, jangan sampai kita salah dalam mengidolakan sesuatu.

Kalau kita memperhatikan dalam Sirrah Rasulullah ”Sebagai Seorang Pemimpin”, bagaimana beliau mencontohkan sikap seorang pemimpin yang tidak merasa lebih tinggi dari orang-orang  yang  dipimpin, bagaimana seorang pemimpin yang tidak memiliki makanan kecuali hanya sebutir kurma, apakah karena beliau miskin? Jika Rasululllah mau tentu Allah akan mengabulkan semua permintaan beliau, tapi  Rasulullah lebih memilih hidup seperti orang yang dipimpinnya. Seorang penulis, di dalam buku “100 pemimpin yang sangat berpengaruh” beliau menulis Rasullullah berada di peringkat pertama.

Ingatkah kita kisah seorang pemimpin yang memikul sendiri sekarung gandum di pundaknya karena melihat rakyatnya memasak batu karena anaknya merasa lapar, beliau adalah Umar bin Abdul Aziz, suatu ketika beliau mengutus pengawalnya berpatroli, pengawalnya melaporkan ada sebuah gubuk seorang perempuan dengan seorang anaknya, yang sedang menangis karena lapar, sang ibu memasak beberapa butir batu untuk melalaikan anaknya, sambil meangis sang ibu mengaduk-aduk batu dalam kuali sampai anaknya tertidur.
Mendengar berita yang demikian sang pemimpin tersebut memerintahkan pengawalnya mengambil sekarung gandum, dan beliau memikul sendiri, sampai di gubuk tersebut beliau menanyakan kepada sang ibu, mengapa bisa terjadi demikian, sang ibu menjawab, pemimpin kami lupa kepada kami, sambil menangis beliau memberikan sekarung gandum tersebut, sambil mengatakan sayalah pemimpin itu.

Kisah diatas hanya sebagian kecil dari kisah para pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan orang yang dipimpinnya. Kalau kita memperhatikan di zaman yang kita hadapi sekarang, tentu berbalik 90 derajat, dimana sang pemimpin tidak lagi menghidupkan rakyat justru mencari hidup dari rakyat, mereka memperkaya diri sedangkan orang-orang yang di pimpin mereka masih banyak yang merasakan kelaparan, sampai mati dalam keadaan lapar, sakit yang tidak kunjung sembuh, karena mereka berpikir untuk mendapatkan sesuap nasi saja susah apalagi harus ke dokter dan biaya pengobatan.

Masihkah kita mengingat berita seorang nenek yang mencuri singkong karena cucunya lapar, sehingga beliau dimeja hijaukan dan di tuntut denda Rp1 juta atau di penjara selama 2,5 tahun, begitu mahalnyakah harga singkong sekarang, apa yang kita rasakan ketika mendengar berita demikian? Justru ditingkat atas banyak yang bermain dengan milyaran dan bahkan trilyunan, mereka santai-santai saja, karena mereka beranggapan dimana ada uang disitu tidak ada masalah. Berapa banyak para petinggi terlibat korupsi. Ada juga yang sudah terbukti masih saja mengatakan, saya tidak akan melepaskan jabatan dengan alasan saya mau menjalankan tugas, sungguh, suatu kebohongan.

Sebagian besar kejahatan tentu disebabkan masasalah perut, jika kesejahteraan rakyat terjamin, maka kisah sang nenek tidak akan terjadi, jika pemimpin memakai hati dan pikiran mereka, bagaimana jika saya berada diposisi nenek tersebut. Semua kita mendambakan seorang pemimpin yang adil, bijaksana, jujur, dan merakyat, mari kita memperhatikan siapa yang akan menjadi pemimpin kita, jangan karena dimasa kampanye kita diberikan sesuatu, kita menjadi lupa akan beberapa tahun ke depan, ketika dia memimpin.

Perhatikan di sekitar kita yang menjadi wakil kita di pemerintahan, apakah mereka mendengarkan inspirasi dan suara kita. Jangan hanya memanfaatkan kita untuk mendapatkan kesenangan mereka, yang menjadi pemimpin janganlah merasa tinggi, tidakkah kita melihat setinggi-tinggi pohon bambu pasti ujungnya melengkung kebawah, janganlah seorang pemimpin merasa gengsi untuk bergaul dengan dengan seorang petani, tukang becak, tukang sampah dan yang lainya hanya karena mereka tidak memakai jas atau dasi.

Sebelum kita menginjak kursi kepemimpinan, hendaknya kita mengetahui atau memahami benar fungsi, dan kewajiban-kewajiban seorang pemimpin, setidaknya kita memiliki pondasi yang benar-benar kuat, jika kita mempunyai pondasi yang kuat itu tentu tidak tidak akan terombang-ambing mengikuti arah angin. Pondasi itu adalah Iman, Islam, dan Ihsan. Bukankah ketika pemimpin dilantik mereka disumpah dengan Al-Quran, karena kita mengharapkan supaya mereka benar-benar menjalankan fungsinya.

Ataupun jika seorang pemimpin tidak mempunyai pondasi, hendaknya mereka berkomunikasi dengan para ahlinya, dalam hal ini ulama sangat berperan penting, karena agama tidak bisa dipisahkan dengan pemerintahan, karena dalam agama semua solusinya ada. Coba kita memperhatikan sebelum revolisi terjadi di Mesir, seorang ulama besar pernah berpesan dalam pesan singkatnya beliau mengatakan kepada sang Presiden ”mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, jika engkau berada dalam ketentuan kami (ulama), engkau akan mendapat taufiq dari Allah, jika kami (ulama) berada dalam ketentuanmu, maka kehancuran akan terjadi”.

Beberapa hari kemudian beliaupun di panggil Allah, dan beberapa hari setelah beliau wafat terjadilah revolusi di negara yang selama 30 tahun dipimpin Presiden tersebut.

Sebelum kita salah memilih dan menyesal kemudian, marilah kita kembali melihat siapa yang pantas dan bertanggung jawab menjadi pemimpin kita, karena baldatun tayyibatun wa rabburgafur adalah impian kita semua.(ariga.singkite[at]yahoo.com)


*Mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo asal Aceh Tengah

Rabu, 21 November 2012

Papyrus karya Fatin Hamama



Suasana hujan plus suasana hati yang mellow plus ngebacain puisinya fatin hamama jadi teringat seseorang yang sekarang masih di bumi para nabi, kangen bangeeett….

Hmm…..kapan pulangnya? :D


Papyrus°

di Khan Khalili
ku mencari sebentuk hadiah
sebagai kenangan bahwa aku pernah singgah
di kotamu
Musa
tapi, tidak kutemui selain kerdip lampu mesjid Husein
yang menandai hari berangkat malam.
bau syisa merebak diantara ahwaji di pinggir jalan.
besok lusa aku meninggalkan tepian tempatmu
berlabuh di pangkuan Ramses.

Bayang-bayang itu masih lekat dalam ingatanku
setelah menyaksikan fragmen masa lalumu
di Ragab Pharaoh Nil kemarin sore di antara jazirah
dari perahu yang membelah sungai Nil.
dan bungkusan mummi yang membuat aku mual
setelah bertandang di museum Tahrir.
aku ingin sebentuk kenangan.

Bukan sekeping nostalgia di antara imarah berdebu
dari ringkikan keledai dan kereta barang yang
bergerak membelah kota bersama mobil yang
berpacu membelah jalan.
bukan,
bukan pula wajah masam Madam Sabah yang
menagih kontrakan sya'ah setiap habis bulan
aku inginkan kenangan yang manis.
semanis anggur banati atau anggur rubbi mandanillu
ataupun asab di pinggir hadiqah dauliah, tempatku
biasa minum.
atau seperti rasa bar'uq sukkari yang senantiasa kusuka
meski asam ada manis-manisnya.
tapi apakah lagi kenangan itu.

di benteng Salahuddin Ayyubi, ketika musim panas tiba
aku lihat penjaja hummus.
di puncak muqattam pun aku temui, terasa waktu
dalam kurun yang purba.
dengan jagung bakar di tangan lebih membuat aku
tertarik menikmati matahari tenggelam
bersama hamparan pasir di lembah kota.
suara deram turummoi membawaku
sampai ke Sayyidah Zainab,
mesjid tua itu
senantiasa membuat aku ingin singgah setiap saat
keinginan yang tidak pernah kesampaian.
menuju Manial melewati Imbaba, selokan air
yang menggantung tinggi membatasi penglihatan dari
sedikit kuburan penduduk yang tertutup tengah kota,
mengalah pada bangunan baru funduq
penampung turis berbintang lima sepanjang Cornice.
Kahirah yang usang di waktu siang
berubah jelita di waktu malam bertabur lampu
mercuri dan gemerlap bintang-bintang malam.

Kusinggahi uyun Musa di tepi laut merah dan
terusan Suez.
airnya membuat aku menggigil dan gametar,
sementara tanpa pepohonan matahari bebas
memanggang kulitku.
dan hembusan angin yang liar sepanjang jalan
ke Fayum.

ketika kudatangi tunggul ketamakan Qarun
di danaunya serasa kudengar gemerincing kunci
gudang hartanya dihela beberapa kuda.
apalagikah kenangan itu.
lorong kecil di dalam Pyramid
dengan sedikit oksigen membuat aku sesak
hanya untuk melihat tempat peristirahatan terakhir
para Fir'aun
kenapa begitu jauh kau gali tanah untuk menaruh
sekerat ragamu.

*dari kumpulan puisi Papyrus Fatin Hamama

Minggu, 26 Agustus 2012

Format Laporan Jamkesmas

hummm.....bingung, ini yg pertama x nya buat laporan, tapi saya akan slalu mencoba bekerja keras untuk menyelesaikan semua inii... (terlalu mendramatisir yak!? hihiiii :D )

semoga ini bisa membantu :)




Cara pengisian format pelaporan
PROGRAM Jamkesmas TaHun 2010
Jumlah Tempat Tidur (TT) RS
·         Jumlah TT RS diisi sesuai dengan jumlah TT yang ada di RS Saudara pada kondisi saat ini
·         Jumlah TT RS adalah jumlah tempat tidur yang meliputi jumlah TT yang ada di  kelas VIP s.d kelas III atau kelas lainnya yang ada di RS/ BP4/BKMM/BBKPM/BKPM/BKIM Saudara.
·         Jumlah TT RS kelas III adalah jumlah TT yang ada di kelas III saja untuk pasien
Definisi Pasien Jamkesmas dan Non  Jamkesmas
·         Pasien Jamkesmas adalah pasien peserta  program Jamkesmas dan dibiayai oleh dana APBN
·         Pasien non Jamkesmas adalah pasien diluar peserta  program Jamkesmas
Definisi Pasien Baru Dan Pasien Lama
Pasien lama adalah :
  • Pasien yang sudah pernah berobat ke RS dan sudah mempunyai nomor  rekam medis
Pasien baru adalah :
  • Pasien yang baru pertama kali berobat ke RS dan belum pernah mendapat nomor rekam medis sebelumnya.
Cara Pengisian Jumlah Pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL)
Dalam mengisi jumlah pasien (pasien Jamkesmas dan non Jamkesmas) RJTL, data yang digunakan  adalah nomor  rekam medis. Satu nomor rekam medis hanya dihitung satu kali walaupun pasien tersebut berobat berulang-ulang ke RS.
Catatan: 
Jumlah pasien Jamkesmas diperlukan untuk mengetahui berapa orang pasien Jamkesmas yang memanfaatkan pelayanan medik di PPK Tkt II dan III dari 76,4 juta jiwa yang menjadi sasaran program (untuk melihat cakupan dari sasaran program Jamkesmas)
Jumlah pasien Non Jamkesmas diperlukan untuk melihat proporsi antara jumlah pasien Jamkesmas dengan pasien Non Jamkesmas yang memanfaatkan pelayanan medik di PPK Tkt II dan III

Cara Pengisian Jumlah Pasien Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL)
Mengingat setiap pasien (pasien Jamkesmas dan non Jamkesmas) yang berobat ke RS akan terlebih dahulu melalui Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) poliklinik/UGD,  maka Pasien Rawat Inap Tingkat Lanjut  (RITL) merupakan bagian dari pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL), dan nomor rekam medis sudah diperoleh di RJTL.
Walaupun pasien ( pasien Jamkesmas dan Non Jamkesmas) RITL (termasuk RITL Persalinan pasien Jamkesmas) sudah masuk kedalam data pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjut, namun  untuk keperluan penghitungan BOR dan LOS maka jumlah pasien RITL  baru dan lama tetap harus dituliskan lagi walaupun dalam penghitumgan jumlah pasien tidak dihitung lagi.
Cara Pengisian Jumlah Kunjungan Pasien
Dalam mengisi jumlah kunjungan pasien (pasien Jamkesmas dan Non Jmkesmas), data yang digunakan adalah data jumlah kedatangan pasien kerumah sakit untuk berobat, sehingga satu pasien ( satu nomor rekam medis), dapat dihitung berulang kali sesuai dengan jumlah kedatangan pasien ke RS tersebut.
Catatan :
Jumlah kunjungan pasien Jamkesmas diperlukan untuk melihat berapa banyak penggunaan pelayanan medik di PPK tkt II dan III oleh pasien Jamkesmas
Jumlah kunjungan pasien Non Jamkesmas diperlukan untuk melihat proporsi penggunaan pelayanan medik di PPK tkt II dan III oleh pasien Jamkesmas dan pasien Non Jamkesmas.
Definisi  Jumlah Kunjungan Pasien Jamkesmas Rawat Inap Paska Persalinan (Normal, dengan Penyulit, SC)
Adalah jumlah kedatangan pasien Jamkesmas Rawat Inap paska persalinan (Normal, dengan Penyulit, SC) untuk dilakukan rawat inap kembali diruang Obsgyn dalam kurun waktu 40 hari paska persalinan.

Definisi Persalinan Normal, Persalinan dengan Penyulit dan Sectio Cesaria
Þ     Persalinan normal  adalah Persalinan per vaginam tanpa adanya faktor resiko apapun.  kondisi pasien betul-betul sehat tidak ada penyakit penyerta dalam kehamilannya, dan tidak ada resiko dalam proses kelahiran misalnya : preeklampsi/ekslampsi, decom cordis, dll, sehingga pasien tersebut seharusnya bisa melahirkan dengan ditolong bidan. 
Untuk partus normal yang dilakukan di RS perlu dituliskan alasannya dan diisi pada form 1A
Þ     Persalinan dengan penyulit adalah Persalinan per vaginam yang disertai dengan penyakit penyerta dalam kehamilannya, misalnya preeklampsi/eklampsi, decompositio cordis dll sehingga dalam proses persalinannya memerlukan bantuan tenaga dokter atau dokter spesialis.
Þ     Persalinan dengan Sectio Caesaria adalah Persalinan per abdominal atas indikasi medis
Cara Pengisisan Jumlah Pasien Jamkesmas Keluar Rumah Sakit
Untuk mengisi  jumlah  pasien Jamkesmas keluar RS, datanya diambil dari data jumlah pasien RITL Jamkesmas . Jumlah pasien Jamkesmas keluar RS harus sama dengan jumlah pasien RITL Jamkesmas. Seperti terlihat pada bagan di bawah ini



                                                       Pasien Jamkesmas

JUMLAH PASIEN JAMKESMAS RITL KELUAR RS
 
Rawat Jalan

Keluar  hidup
 

< 48jam
 

>48jam
 

Keluar  Mati
 
Pulang                                                      Rawat Inap




CARA PENGISIAN PASIEN JAMKESMAS YANG DIRUJUK
Jumlah Pasien Jamkesmas yang dirujuk adalah jumlah pasien Jamkesmas yang sudah tercatat di bagian Rekam medis RS/BP4/BKMM/BBKPM/BKPM/BKIM Saudara (sudah mempunyai nomor rekam medik), tapi kemudian dirujuk ke RS lain.