
Khairul Asri
Oleh: Khairul Asri*
KETIKA saya mengomentari dua orang yang sedang berdebat
masalah pemimpin, saya katakan ”seorang pemimpin harus seperti
Rasulullah SAW”. Salah satu dari mereka mengatakan jangan menyamakan
pemimpin kita ini dengan Rasulullah SAW, beliau seorang Nabi. Saya
terkejut dengan tanggapan yang demikian, dalam hati saya, kita memang
tidak bisa dan tak seorangpun yang akan bisa seperti Rasulullah SAW,
tapi tentu kita bisa melakukan seperti yang beliau lakukan, walaupun
tidak sesempurna yang Rasulullah lakukan.
Coba kita membuka kembali Sirrah Rasulullah, para sahabat dan
pemimpin-pemimpin islam terdahulu. seharusnya kita mengidolakan mereka
dan menjadikan mereka contoh dalam keseharian kita, jangan sampai kita
melupakan sejarah. Jika kita sekarang telah sedikit lupa dengan sejarah
Rasulullah, bagaimana 3 atau 4 tahun kedepan, tentu generasi kita bisa
menjadi korban penipuan dalam sejarah. Setiap kita tentu punya idola,
jangan sampai kita salah dalam mengidolakan sesuatu.
Kalau kita memperhatikan dalam Sirrah Rasulullah ”Sebagai Seorang
Pemimpin”, bagaimana beliau mencontohkan sikap seorang pemimpin yang
tidak merasa lebih tinggi dari orang-orang yang dipimpin, bagaimana
seorang pemimpin yang tidak memiliki makanan kecuali hanya sebutir
kurma, apakah karena beliau miskin? Jika Rasululllah mau tentu Allah
akan mengabulkan semua permintaan beliau, tapi Rasulullah lebih memilih
hidup seperti orang yang dipimpinnya. Seorang penulis, di dalam buku
“100 pemimpin yang sangat berpengaruh” beliau menulis Rasullullah berada
di peringkat pertama.
Ingatkah kita kisah seorang pemimpin yang memikul sendiri sekarung
gandum di pundaknya karena melihat rakyatnya memasak batu karena anaknya
merasa lapar, beliau adalah Umar bin Abdul Aziz, suatu ketika beliau
mengutus pengawalnya berpatroli, pengawalnya melaporkan ada sebuah gubuk
seorang perempuan dengan seorang anaknya, yang sedang menangis karena
lapar, sang ibu memasak beberapa butir batu untuk melalaikan anaknya,
sambil meangis sang ibu mengaduk-aduk batu dalam kuali sampai anaknya
tertidur.
Mendengar berita yang demikian sang pemimpin tersebut memerintahkan
pengawalnya mengambil sekarung gandum, dan beliau memikul sendiri,
sampai di gubuk tersebut beliau menanyakan kepada sang ibu, mengapa bisa
terjadi demikian, sang ibu menjawab, pemimpin kami lupa kepada kami,
sambil menangis beliau memberikan sekarung gandum tersebut, sambil
mengatakan sayalah pemimpin itu.
Kisah diatas hanya sebagian kecil dari kisah para pemimpin yang
memperhatikan kesejahteraan orang yang dipimpinnya. Kalau kita
memperhatikan di zaman yang kita hadapi sekarang, tentu berbalik 90
derajat, dimana sang pemimpin tidak lagi menghidupkan rakyat justru
mencari hidup dari rakyat, mereka memperkaya diri sedangkan orang-orang
yang di pimpin mereka masih banyak yang merasakan kelaparan, sampai mati
dalam keadaan lapar, sakit yang tidak kunjung sembuh, karena mereka
berpikir untuk mendapatkan sesuap nasi saja susah apalagi harus ke
dokter dan biaya pengobatan.
Masihkah kita mengingat berita seorang nenek yang mencuri singkong
karena cucunya lapar, sehingga beliau dimeja hijaukan dan di tuntut
denda Rp1 juta atau di penjara selama 2,5 tahun, begitu mahalnyakah
harga singkong sekarang, apa yang kita rasakan ketika mendengar berita
demikian? Justru ditingkat atas banyak yang bermain dengan milyaran dan
bahkan trilyunan, mereka santai-santai saja, karena mereka beranggapan
dimana ada uang disitu tidak ada masalah. Berapa banyak para petinggi
terlibat korupsi. Ada juga yang sudah terbukti masih saja mengatakan,
saya tidak akan melepaskan jabatan dengan alasan saya mau menjalankan
tugas, sungguh, suatu kebohongan.
Sebagian besar kejahatan tentu disebabkan masasalah perut, jika
kesejahteraan rakyat terjamin, maka kisah sang nenek tidak akan terjadi,
jika pemimpin memakai hati dan pikiran mereka, bagaimana jika saya
berada diposisi nenek tersebut. Semua kita mendambakan seorang pemimpin
yang adil, bijaksana, jujur, dan merakyat, mari kita memperhatikan siapa
yang akan menjadi pemimpin kita, jangan karena dimasa kampanye kita
diberikan sesuatu, kita menjadi lupa akan beberapa tahun ke depan,
ketika dia memimpin.
Perhatikan di sekitar kita yang menjadi wakil kita di pemerintahan,
apakah mereka mendengarkan inspirasi dan suara kita. Jangan hanya
memanfaatkan kita untuk mendapatkan kesenangan mereka, yang menjadi
pemimpin janganlah merasa tinggi, tidakkah kita melihat setinggi-tinggi
pohon bambu pasti ujungnya melengkung kebawah, janganlah seorang
pemimpin merasa gengsi untuk bergaul dengan dengan seorang petani,
tukang becak, tukang sampah dan yang lainya hanya karena mereka tidak
memakai jas atau dasi.
Sebelum kita menginjak kursi kepemimpinan, hendaknya kita mengetahui
atau memahami benar fungsi, dan kewajiban-kewajiban seorang pemimpin,
setidaknya kita memiliki pondasi yang benar-benar kuat, jika kita
mempunyai pondasi yang kuat itu tentu tidak tidak akan terombang-ambing
mengikuti arah angin. Pondasi itu adalah Iman, Islam, dan Ihsan.
Bukankah ketika pemimpin dilantik mereka disumpah dengan Al-Quran,
karena kita mengharapkan supaya mereka benar-benar menjalankan
fungsinya.
Ataupun jika seorang pemimpin tidak mempunyai pondasi, hendaknya
mereka berkomunikasi dengan para ahlinya, dalam hal ini ulama sangat
berperan penting, karena agama tidak bisa dipisahkan dengan
pemerintahan, karena dalam agama semua solusinya ada. Coba kita
memperhatikan sebelum revolisi terjadi di Mesir, seorang ulama besar
pernah berpesan dalam pesan singkatnya beliau mengatakan kepada sang
Presiden ”mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, jika engkau berada
dalam ketentuan kami (ulama), engkau akan mendapat taufiq dari Allah,
jika kami (ulama) berada dalam ketentuanmu, maka kehancuran akan
terjadi”.
Beberapa hari kemudian beliaupun di panggil Allah, dan beberapa hari
setelah beliau wafat terjadilah revolusi di negara yang selama 30 tahun
dipimpin Presiden tersebut.
Sebelum kita salah memilih dan menyesal kemudian, marilah kita
kembali melihat siapa yang pantas dan bertanggung jawab menjadi pemimpin
kita, karena
baldatun tayyibatun wa rabburgafur adalah impian kita semua.
(ariga.singkite[at]yahoo.com)
*Mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo asal Aceh Tengah